Art Culture 16 May 2021 13:00

Ziarah Wali Songo: Sunan Muria

1 tahun yang lalu
Ziarah Wali Songo: Sunan Muria Area makam Sunan Muria di Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. // Semua foto diambil sebelum pandemi Covid-19. (Foto: Sendy A Saputra)

Disclaimer: Seri Ziarah Wali Songo yang tayang di website TRAVELTIMES.ID, Jumat (07/05/2021) - Minggu (16/05/2021), dirangkum dari buku Arsy karya Sendy A Saputra (2019). Segala bentuk penyuntingan dilakukan atas izin penulis. Selamat membaca!

Teks & Foto: Sendy A Saputra / Editor: Agung Rahmadsyah

TRAVELTIMES.ID, JAKARTA - Raden Umar Said atau yang dikenal dengan Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga, sekaligus tokoh Wali Songo termuda. Sebagaimana ayahnya, Sunan Muria juga berdakwah melalui jalur budaya dan mengajarkan masyarakat untuk berdagang, bertani, dan melaut.

Raden Umar Said lebih senang menghanyutkan diri bersama rakyat jelata. Sasaran berdakwah beliau dipusatkan pada masyarakat pedalaman, seperti di Jepara, Tayu, Juwana, Kudus, sampai ke wilayah timur yakni Pati dan Rembang yang menjadi pusat penyebaran dakwahnya. Gelar “Muria” yang disandang Raden Umar Said lebih kepada tempat tinggalnya di Gunung Muria.

Sunan Muria memutuskan untuk menetap di puncak Colo, Gunung Muria, dan mendirikan masjid yang bagus. Namun tak bersleang lama ia membakar masjid tersebut karena enggan mendapat pujian dari orang-orang tentang masjid tersebut. Usai membakar habis masjid itu, Sunan Muria mendirikan masjid kembali dengan sederhana. 

Sunan Muria selain dikenal memiliki kesaktian yang tinggi untuk memberantas para perampok-perampok yang mengganggu di sekitar tempat tinggalnya. Dalam dakwahnya, pendekatan tradisi keagamaan lama yang dianut masyarakat juga tidak dihilangkan, melainkan diberi warna baru.

Cara dakwah Sunan Muria selalu sama dengan ayahnya. Sunan Muria juga membuat tembang-tembang cilik (sekar alit), seperti Sinom dan Kinanthi. Salah satunya Sinom Parijotho. Sinom berarti daun muda dan Parijotho buah yang tumbuh di lereng pegunungan Muria.

Lihat juga:

1. Ziarah: Pra Wali Songo (Bagian 1)

2. Ziarah: Pra Wali Songo (Bagian 2)

3. Ziarah Wali Songo: Sunan Kalijaga

Pahatan berbentuk kosmologi Nawa Dewata yang sudah dimodifikasi ini terletak di dalam cungkup makam Sunan Muria. Dan masih terawat sejak Sunan Muria dimakamkan di gunung Muria.
Dari kamera CCTV yang dipasang di dalam cungkup makam, terlihat jirat makam Sunan Muria.
Cungkup makam Sunan Muria yang disampingnya terdapat 17 makam para prajurit dan punggawa dari Kerajaan Demak. Yang diutus untuk selalu mengawal Sunan Muria selama berdakwah.
Seorang pekerja di makam Sunan Muria tengah mengisi gelas-gelas air untuk para peziarah minum, cuci muka, ataupun dibawa pulang. Gentong tersebut merupakan peninggalan Sunan Muria yang dahulu digunakan untuk berwudhu.
Untuk tiba di makam Sunan Muria, peziarah harus berjalan kaki ke atas sejauh 1,5 km. Dan sepanjang perjalanan menuju ke atas, berjajar para pedagang yang menjajakan dagangannya. Apabila tidak ingin berjalan, peziarah bisa menggunakan ojek dengan biaya 15 ribu rupiah untuk sekali jalan.
Buah Parijotho yang dijual di warung-warung sekitar makam Sunan Muria.
Buah Parijotho yang sudah diolah dan dikemas dalam bentuk botol berukuran 250 miligram.

Berita Lainnya

All article - Bottom